Rss Feed
  1. Mengulas SUKU BADUY

    Jumat, 07 November 2014

    Pada akhir semester 2 kemarin, saya dan teman-temen sekelompok memiliki tugas akhir untuk matkul ilmu budaya dasar. disini saya hanya ingin mengulas balik kebudayaan "suku baduy" yang mana sebelumnya kisah tersebut saya tuangkan kedalam video dan sekarang saya ingin cerita sedikit atau banyaknya mengenai suku baduy itu sendiri.

    Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo.

    Keberadaan saya dan teman" disana memakan waktu 3 hari 2 malam, yang kebetulan disana saya dan teman" memasuki suku baduy luar dan baduy dalam. Jarak yang ditempuh untuk memasuki baduy dalam cukup panjang sekitar 2 jam setengah dengan perjalanan kaki yang cukup melelahkan. Disana tidak ada listrik, populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy dalam. ciri-ciri pakaian baduy dalam : berbaju putih hasil jaitan tangan (baju sangsang), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua (tenunan sendiri) sampai di atas lutut, dan sifat penampilannya jarang bicara (seperlunya) tapi amanah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana dan untuk baduy luar hanya berbeda warna baju saja yaitu hitam dan ikat kepala berwarna biru.

    Suku baduy dalam belum mengenal budaya luar dan terletak di hutan pedalaman. Karena belum mengenal kebudayaan luar, suku baduy dalam masih memiliki budaya yang sangat asli. Suku baduy dalam tidak mengizinkan orang luar tinggal bersama mereka. Bahkan mereka menolak Warga Negara Asing (WNA) untuk masuk. Jadi kalau sobat-sobat punya teman bule, jangan di ajak ke baduy, kasihan mereka nanti harus nunggu di luar. Kemudian suku baduy dalam juga tidak mengizinkan penggunaan kamera. Selain itu,suku baduy dalam juga tidak mengenal perkakas seperti yang kita tahu misal gergaji, palu, paku. Jadi untuk membuat rumah, dibuat dengan menggunakan bahan dan alat-alat tradisional. Di ambil dari hutan dan di kerjakan secara gotong royong. Seperti jembatan yang di buat dengan bahan bambu, di ikat dengan tali dan memakain pondasi dari pohon sekitar.  Terlebih lagi untuk barang-barang elektronik : Hp, Tv, Laptop atau Komputer.
    Baduy luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Baduy Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkanya warga Baduy Dalam ke Baduy Luar. Pada dasarnya, peraturan yang ada di baduy luar dan baduy dalam itu hampir sama, tetapi baduy luar lebih mengenal teknologi dibanding baduy dalam.

    Ciri-ciri khas masyarakat:

        Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik, meskipun penggunaannya tetap merupakan larangan untuk setiap warga Baduy, termasuk warga Baduy Luar.
        Proses Pembangunan Rumah penduduk Baduy Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Baduy Dalam. (BL)
        Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans. (BL)
        Kelompok masyarakat panamping (Baduy Luar), tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi (di luar) wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. (BL)

    Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes. Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apapun", atau perubahan sesedikit mungkin.

    berikut foto-foto saya dan teman" selama berada disana

     hari pertama : papan nama "selamat datang di baduy"

    hari kedua : perjalanan ke suku baduy dalam (suasana setelah hujan)

     
    jembatan baduy, masih dalam perjalanan baduy dalam

    gunung baduy, perjalanan pulang setelah dari baduy dalam

     turun gunung setelah dari baduy dalam


    istirahat, makan dipinggir sungai

    sudah berada di baduy luar, sekitar pukul 16:30 wib

    hari ketiga : wawancara masyarakat baduy
    foto bersama sebelum pulang  

    hari ketiga : perjalan pulang, sekitar pukul 11:00 wib

    video wawancara masyarakat baduy punya cerita




  2. 0 komentar:

    Posting Komentar

profil